Friday, June 15, 2007

13 Juni 2007

Lepas 7 bulan sudah
Hari ini, ku berdiri disampingmu.
Hening.
Ditemani beberapa bunga kamboja yang memucat putih
Dan garingnya tanah yang memerah kehausan
Menatap kayu nisan yang mulai lapuk ditelan waktu

Masih kuingat lekuk tubuhmu hingga bagian yang paling tersembunyi
Dan kulitmupun masih terasa di tapak tanganku.
Daun hijau akhirnya menghela juga:biarkan dia tenang tidur disana…

Tapi bukankah manusia butuh kehadiran?
Bukankah ketika ada cinta pasti perlu pelukan?
Aku perlu jawaban.

Thursday, April 12, 2007

HAH? KOK MUNIR BELUM MATI?(*&?>:+_)*&>

9 September 2005 - 11:41Rikamanis
(rikamanis1982@yahoo.com)
Sekecap puisi untuk Munir.


Wei, jangan bicara keras-keras!
Berisik!
Ganggu telinga gw!!
Gue putusin nanti pita suara lo!…………………………

Eh, dia masih ngomong juga!
Diapain nih enaknya?
Mmmm…di santet gimana?
Jangan……kurang modern...
Abis, diapain dong…….
Pake sniper aja, kita tembak kepalanya!
Waduh….terlalu kasar tuh..kurang elegan…
Abis, diapain nih?
Kita racunin aja gimana?Akuuuuurrrrrrr………..
InimatiitumatiInimampusitumampus!Makaninimampus

!@#$@^&%;^@$@&”?}{@$%*&@@&!K@)!_+}{

“Waduh, kok gak mati-mati????
Aduh, kok tambah banyak Munir???
Argh! Munir mana lagi ini?
Hah?! Kok jadi banyak Munir???
Wah, mampus gw!

Monday, March 05, 2007

Hei, Perempuan....

For all prostitute woman: there's no one perfect.
Rawamalang,15 Februari 2004

Hei, Perempuan...
Kusaksikan dengan nurani sejuta pria hempaskan tubuhmu
Dan ketika kita bertatap-tatapan
Kata-kata tak lagi punya makna
Tak perlu ucap
Tak lagi butuh basa
Seketika jiwa kita berselaman

Ya, Perempuan...
Kutemukan jiwaku di tubuhmu
Ditubuhkupun bersemayam jiwamu

"Aku begitu kotor" ucapmu
"Tak ada yang suci dalam yang fana, Perempuan"
"Aku pun tak sempurna" sergahmu
"Tak ada yang lebih sempurna dari yang tak berserah pada hidup"


Hei, Perempuan...
Kusaksikan dengan matahati sejuta pria menghujam tubuhmu
Pedihmu aliri darahku
Nestapamu juga ternyata milikku
Tapi tangis sudah seharusnya jadi suatu yang hina

Hei, Perempuan dalam tubuhku....
Tengadahkan parasmu
Yakinkan hati, mentari esok kan bawa asa jua.





Monday, February 19, 2007

Memang Tidak Kau Rasa

(Oleh:Rika)
Semata-mata sepi yang merangkul
Bukan benci yang menggelayuti

Tidak semudah yang kau katakan:
Ya, aku tidak apa-apa
Bukan.
Memang tidak pernah kau rasakan


April 2005

Sunday, February 18, 2007

Amin Ya Allah

(Oleh:Rika)
Baris-baris puisi itu bergumam padaku
Terkadang juga riuh rendah
Kucari mungkin ada parasmu:
Kutemu sesurat ayat indah
Amin Ya Allah Amin.

Lagi-lagi ku terkapar tak berdaya
PisauMu telah tunjukkan tajamnya!
Kali ini tepat di ulu hatiku.
Lukanya meranggas pada yang lain
Makin hari semakin busuk dan bernanah

Mana maduMu?
Kabarnya kan selalu datang pasca kepedihan.

Yang ada aku terkulai minta belasMu.

Belum Saja Kau Tahu

(Oleh:Rika)

Iya, tumpahkan saja apa yang kau mau lontarkan!
Aku menampa dengan diam
Ayo, hibur saja aku dengan badut, puisi cinta, coklat dan amplop
Kan aku telan dengan tangis di hati

Kau bilang semua nyawa kan berpulang
Bayi mungil pun tahu itu
Kau serapah: lebih baik kirim doa
Kalau begitu, lewat pos mana kan kukirim?

Kutinggalkan rumah harap sisihkan luka
Sekoper kenangan mengganduli pundakku.

Mana lagi kupilih?
Kalau asa baru saja putus.

Rendra Bilang,

(Oleh:Rika)
Kalau Rendra bilang “tungku tanpa api”
Aku bilang tanpa tungku tanpa api
Kalau Rendra bilang kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan

Aku bilang:
Aku sepi
Aku takut
Aku lumpuh
Dan akhirnya mati.


2 Desember 2006

Tuesday, February 13, 2007

Surat Kangen















Oleh: (Rika.For My Lovely GrandMa, RIP:13 Nov 2006)

Rindu ini terasa menusuk tulang dan hati, sayang
Terlebih diluar dingin tak henti-henti hujan
Kangen minta dipeluk dan dihujani ciuman

Pada siapa aku kan ceritera :
tentang bahagia suami naik pangkat?
dan mengeluh kucing-kucing kita terserang flu?
tragis banjir tenggelamkan kota?
busway menambah semrawut kota?

Tapi tentu kau selalu ikuti berita bukan..

Apakah kau disana kerasan, sayang?
Kerapkali kutelpon tanpa jawab dirumahmu.
Lain kali, sambangi kamarku lagi.
Bisikkan, atau paling tidak beri tanda kau juga tak melupakan aku.
Biar aku tenang dan senang.

(For My Lovely GrandMa, RIP:13 Nov 2006)





Jangan Berkata














Lebih baik diam tidak berkata-kata
Ketimbang kata merusak kalbu
Jangan ucap kata cinta
Lebih baik tepekur dalami rindu

Ketimbang nila mencerca putih
Lebih baik reguk saja itu bening
Tak perlu kau cari-cari warna
Baik kau coba hapusi saja itu dusta

Ini dusta, itu dusta
Simpan saja, aku gantikan dengan cinta...